Om Swastyastu

Jauh Lebih baik mengetahui makna yadnya yang kita persembahkan

Kamis, 05 Juli 2012

Tumpek Landep dan Sesayut Pasupati


Memaknai Perayaan Tumpek Landep
“Landepin Manah” sumber Kebahagiaan

Sesayut Pasupati
Bertepatan dengan Saniscara Kliwon Wuku Landep, (30/06) lalu umat Hindu merayakan Tumpek Landep. Ida Pedanda Made Gunung pernah menyampaikan, menurut filosofinya, Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman citta, budhi dan manah (pikiran). Diharapkan, tingkah laku perbuatan umat selalu dilandasi atas kesucian pikiran sehingga bisa memilah mana yang baik maupun yang buruk. Sebab dari pikiran kebahagiaan itu datang dan dari pikiran juga kesedihan menggelayut di hati. Seperti tersurat dalam Sloka 81, Sarasamuscaya, “Pikiran itu sangatlah labil dan berubah-ubah, apabila seseorang dapat mengendalikan pikirannya, niscaya ia akan memperoleh surga di dunia dan surga di akherat”.

Umat Hindu senantiasa mensyukuri karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bhakti Marga merupakan salah satu yadnya yang paling diminati umat untuk menunjukkan rasa syukur serta pendekatan diri pada Beliau Yang Maha Kuasa. Setiap hari rasa bhakti ditunjukkan dengan menghaturkan canang dan rarapan sesuai kemampuan. Sudah bisa menghidangkan makanan untuk hari ini disyukuri dengan menghaturkan banten jotan meski dengan lauk seadanya.
Rasa syukur rupanya mampu menguatkan hati, tangan dan kaki untuk tetap berusaha menapaki kehidupan ini. Rasa syukur tidak lepas dari pikiran suci yang mendamaikan hati. Rasa syukur adalah vitamin yang memompa semangat untuk tetap berkarya dan menjadi lebih baik dari hari ini. Kembali lagi, rasa syukur bersumber dari pikiran positif.
Ida Sang Hyang Widi Wasa, Maha Besar Beliau, sebuah kebahagiaan bisa menapaki jalan kebenaran melalui tuntunan sastra-Nya. Pada hari Tumpek Landep lalu, Beliau menghadirkan berkas kebahagiaan dan peringatan pada umat agar mengasah indria pikiran yang tidak dimiliki oleh makhluk lain sesama ciptaan-Nya.
Ada yang istimewa pada hari Tumpek Landep di Bali. Kendaraan sepeda, motor dan mobil yang lalu-lalang di jalan tampak indah dihiasi caniga, sampyan gantung dan tamiang. Semua itu merupakan wujud syukur umat atas kecanggihan ilmu pengetahuan teknologi sehingga bisa mempersingkat waktu dan jarak dengan diciptakannya alat transportasi tersebut. Demikian juga teknologi lain yang menggunakan bahan dari besi mendapat perlakuan khusus di hari tersebut.
Teknologi canggih ada karena manusia menggunakan pikiran untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan menghasilkan karya yang bermanfaat. Terkait dengan hari Tumpek Landep ini umat melakukan pemujaan kepada Sanghyang Siwa Pasupati yang merupakan dewanya taksu dengan menghaturkan sesayut pasupati. Setelah memperingati hari Saraswati (turunnya ilmu pengetahuan) selanjutnya umat memohon pengetahuan tersebut bertuah dan memberi ketajaman pikiran.
Pada hari tersebut juga dilakukan upacara pembersihan dan penyucian pusaka leluhur seperti keris, tombak dan sebagainya sehingga hari Tumpek Landep kerap disebut oton besi. Motor, mobil, komputer juga diberikan otonan sebagai sarana yang digunakan setiap hari sehingga bisa memberi kebaikan dan tidak mencelakakan. Dari semua yang dilaksanakan tersebut, makna mendalam yang ingin diperoleh dari pelaksanaan upacara ini adalah untuk mengasah pikiran layaknya perabotan-perabotan yang digunakan tersebut supaya lebih tajam dan berguna untuk kebaikan. Pikiran yang tajam akan mampu memerangi kebodohan dan menekan sifat bhutakala dalam diri.
Pada hari Tumpek Landep kebahagiaan datang dari berbagai penjuru sebab pikiran positif yang menaunginya. Tidak hanya umat yang merayakan mendapatkan berkah di hari suci ini. Setiap orang bisa merasakan kebahagiaan termasuk yang merayakan merasa lebih PD dengan mengendarai kendaraan yang lebih bersih dari hari biasanya. Sektor usaha cuci motor/mobil juga kecipratan rejeki. Banyak yang antre untuk mencuci kendaraannya sebelum diberikan otonan.
Sektor ekonomi di Bali terus bergulir dengan adanya perayaan-perayaan hari suci agama. Inilah yang diharapkan, kebahagiaan semua orang.
Demikian dengan perayaan Tumpek Landep ini semoga umat memiliki ketajaman pikiran, bisa memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk tujuan positif bagi kesejahteraan masyarakat, kebaikan alam dan meningkatkan rasa syukur atas anugrah-Nya. Jadikan pikiran sebagai sumber kebahagiaan dengan mengendalikannya. Jadilah joki bagi kuda-kuda pikiranmu yang mengarahkannya ke arah yang baik. Jangan biarkan kuda-kuda pikiran yang mengarahkanmu menuju kesengsaraan pikiran.
Seperti sloka 398, Sarasamuscara, “Karena sesungguhnya pikiranlah yang menyebabkan kesengsaraan, pikiran itu selalu mengarahkan sang diri untuk tidak pernah merasa puas akan apapun, pikiran juga yang mengarahkan ucapan dan prilaku manusia untuk tenggelam dalam lingkaran nafsu dan kesesatan; maka dari itu hendaklah pikiran itu didamaikan, dan diarahkan menuju kesucian dan kebebasan dari ego dan nafsu-nafsu sesat.

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites